.: Selamat Datang di Blog Resmi MI Islamiyah Kedungmegarih Kec. Kembangbahu Kab. Lamongan :.

Kamis, 10 Oktober 2019

Perkemahan Kampung Pelajar Hijau IV

0 komentar
Perkemahan Kampung Pelajar Hijau IV 
Gudep MI Islamiyah Kedungmegarih
Tanggal8-10 Oktober Kegiatan2019

Dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional 2019, Lembaga Pendidikan Ma ‘arif  MI Islamiyah Kedung Megarih Kecamatan Kembangbahu Kabupaten Lamongan mengadakan kegiatan Perkemahan Kampung Hijau IV di Lapangan Desa setempat yang berlangsung di mulai hari Selasa (08/10) hingga Kamis (10/10) yang diikuti seluruh  guru dan para siswa kelas  empat hingga kelas enam sebanyak 260. Mereka cukup antusias sejak kegiatan ini diumumkan.

Mereka dituntut untuk mendirikan tenda mereka sendiri, memasak makanan untuk hidangan makan malam mereka. Tidak lupa mereka mencuci semua peralatan dapur yang digunakan hingga semua kembali dalam keadaan bersih.
Banyak sekali pembelajaran yang mereka dapatkan meskipun dengan beberapa pengorbanan, seperti berpisah dengan orang tua mereka dan tidur bersama dinginnya malam
Kepala Sekolah MI Islamiah Umar Taufiq,SPd  menyatakan kegiatan kepramukaan ini untuk mempererat persatuan melalui bumi perkemahan. Serta untuk melatih kemandirian dan kebersamaan menjadi salah satu kekuatan untuk meraih kematangan dalam belajar di luar sekolah.
“Seperti tema yang diusung oleh kegiatan perkemahan kali ini, yakni Kampung Hijau IV. Kegiatan ini adalah sebagai bentuk pembelajaran murid di luar sekolah yang harus bisa mandiri ” tuturnya.
Umar Taufiq, menambahkan selain itu  kegiatan perkemahan ini juga digelar berbagai macam kegiatan  perlombaan. ” Diantaranya Hasta Karya, melukis , tantangan, permainan tradisional (gobak sodor), permianan igrang, lomba lagu-lagu wajib, pentas seni dan kegiatan perkemahan ini akhiri dengan api unggun,” tutupnya.
Disisi lain, salah satu wali murid MI Islamiyah, Suliswati  dirinya sangat bangga terhadap MI Islamiyah sekolah yang bernaung di Lembaga Pendidikan  Ma’arif ini. “Saya sangat bangga dengan Lembaga ini dan kegiatan semacam ini. Karena apa kami sangat semangat jauh-jauh dari Kecamatan Tikung mengantarkan putra dan putri kami ke MI Islamiyah, karena saya tau bahwa Lembaga yang bernaung di bawah Lembaga Pendidikan Ma’arif ini sangat bagus,” terangnya. (aza)



Sabtu, 05 Oktober 2019

MIA, PULANGLAH NAK....

0 komentar
MIA, PULANGLAH NAK .......

"Pokoknya mama nggak mau tau, kalau hari ini kamu dapat nilai di bawah 80 lagi, kamu nggak usah pulang ke rumah!"

Aku memberi ultimatum kepada Mia, anakku satu-satunya yang baru duduk dikelas 2 SD. Lelah rasanya setiap hari menegurnya dan mengajarinya supaya nilai sekolahnya membaik.

Mia tidak bodoh, di kelasnya ia masuk sepuluh besar. Tapi aku yakin ia bisa lebih dari itu. Ia hanya harus berusaha lebih keras.

Kalau Mia masuk tiga besar, aku bisa membungkam mulut Bu Rina temanku sesama ikut arisan. Dia selalu membanggakan anaknya yang selalu peringkat satu di kelasnya. Macam anaknya saja yang pintar, sungutku.

Kulihat Mia berjalan gontai meninggalkan rumah. Mia pulang pergi ke sekolah dengan berjalan kaki, toh sekolah tak jauh dari rumah. Sekalian mengajarkan dia mandiri.

Aku pun segera larut dalam pekerjaanku sehari-hari. Membersihkan rumah, memasak, mencuci, tak ada habisnya pekerjaan seorang ibu rumah tangga sepertiku.

Aku melirik jam dinding, sudah pukul setengah dua belas. Seharusnya Mia sudah pulang ke rumah.

Hmm, pasti keasyikan main anak ini, biarlah sepuluh menit lagi kalau ia tidak pulang juga, biar kujemput pakai motor, pikirku.

Sepuluh menit berlalu, Mia belum juga pulang, aku mulai was-was. Kupacu motorku menuju sekolah. Di jalan aku berpapasan dengan Bu Rere, anaknya satu kelas dengan Mia.

"Bu Rere ... Tadi lihat Mia nggak Bu disekolah?" Tanyaku.

"Loh, bukannya Mia sudah pulang dari tadi Bu Isti, tadi saya lihat Mia jalan pulang ke rumah sambil menangis Bu, saya tanya kenapa, dia cuma menggeleng. Saya tawarin buat antar dia pulang, Mianya nggak mau Bu." Bu Rere menjelaskan panjang lebar.

Degg ... Perasaan tidak enak langsung menjalariku. Setelah mengucapkan terimakasih aku memacu motorku kembali ke rumah, mana tau Mia berselisih jalan denganku.
Kuperiksa teras depan kosong, tidak ada Mia.

Aku pun kembali memacu motorku mencari Mia, kudatangi sudut-sudut sekolah tempat dia biasa bermain, kutanya guru kelasnya, jawabnya sama seperti Bu Rere tadi. Mia pulang sambil menangis.

Miaaa ... Di mana kamu nak! Aku mulai panik, terpikir untuk menelpon suamiku, ah nanti dulu, biar kususuri dulu kompleks perumahan ini. Bisa jadi Mia masih ada di seputaran kompleks.

Aku sampai di jalan besar, mustahil rasanya Mia berani sampai kesini. Untuk menyeberang jalan sendiri saja dia belum berani.
Tapi tidak ada salahnya kucoba pikirku. Akupun menyusuri jalan besar sambil mataku awas melihat ke kiri dan ke kanan.

Sesudah belokan mataku tertuju pada sekerumunan orang, aku penasaran dan sekelumit perasaan tidak enak datang menghampiri.

Aku parkir motorku di pinggir trotoar dan berusaha menyibak sekerumunan orang, tabrak lari, kata itu yang sekilas terdengar dari orang-orang yang berkerumun.

"Miaaa ...!" Aku berteriak histeris. Seorang anak masih mengenakan seragam sekolahnya tergeletak bersimbah darah. Dia anakku ! Dia Mia ku!

"Tolooonng ... Ini anak saya, tolong antarkan saya ke rumah sakit!" Aku menjerit sambil memangku tubuh Mia, darah mengucur dari kepalanya. Ya Allah apa yang terjadi padamu anakku!.

"Tadi saya lihat anak Ibu ini mau menyeberang jalan Bu, tapi ia ragu-ragu. Mau saya bantu tapi ia sudah terlanjur melangkah ke tengah jalan, ada motor ngebut langsung menghantam anak Ibu," seorang bapak memberi penjelasan kepadaku.

"Tolong anak saya Pak ... Tolong saya membawanya ke rumah sakit!" Aku menangis menjerit-jerit, tubuh Mia terasa dingin di pelukanku, Miaaa ... Bertahanlah sayang, maafkan mama naakk ...!.

"Ayo Bu, ikut mobil saya," seorang bapak-bapak meraih tanganku sambil berusaha mengurai kerumunan orang  yang sibuk mengabadikan peristiwa ini melalui telpon genggam mereka. Kenapa mereka tidak membantuku, apa yang mereka lakukan ... Aku menjerit dalam hati.

Mobil melaju dengan kencang menuju rumah sakit. Aku merasakan Mia bergerak dalam pangkuanku.

"Miaa ...sabar ya sayang, sebentar lagi kita sampai di rumah sakit, nanti Mia diobatin oleh dokter ya," aku mengajak Mia bicara, berusaha mengembalikan kesadarannya.

"Maaaa ..." Mia mengerang

"Iya sayang, mama di sini, Mia nggak usah khawatir," aku memeluknya erat.

"Maaaa ... Maaf ... Mia tadi dapat nilai 70, Mia takut pulang, takut mama marah," hatiku hancur mendengar perkataannya.

Ibu macam apa kamu Istiii ... Makiku pada diriku sendiri. Inilah akibat keegoisanmu, kau jadikan anakmu korban ambisimu hanya supaya kau bisa terlihat lebih baik dimata orang-orang.

"Mama nggak marah Nak, mama nggak akan marah lagi sama Mia, maafin mama ya Nak, maafin mama, habis dari rumah sakit nanti kita pulang sama-sama ya sayang,"

"Uhhuukk ... !

Mia terbatuk, dari mulutnya keluar darah segar, ya Tuhan, tolong anakku!.

"Pak cepat Pak ... ! Anak saya batuk keluar darah, cepat sedikit Pak, tolong Pak !" Aku histeris.

"Iyaa Bu ... Kita hampir sampai," bangunan rumah sakit sudah terlihat.

Mia segera di larikan ke IGD, tiga orang perawat segera tergopoh-gopoh melakukan pemeriksaan awal. Aku tidak boleh mendampingi. Hanya menunggu diluar.

Aku segera menelpon suamiku, memberi keterangan sekilas dan memintanya segera datang ke rumah sakit.
Perawat mendatangiku membawa sebuah berkas.

"Bu, anak ibu harus segera di operasi. Keadaannya kritis, anak Ibu mengalami pendarahan di kepala akibat benturan keras. Ini berkas persetujuan operasi yang harus Ibu tanda tangani."

Secepat kilat aku tanda tangani berkas itu.

"Tolong anak saya Suster, tolong anak saya!" Aku mengguncang-guncang bahu suster tersebut. Aku kalut luar biasa.

"Ibu sabar ya, Ibu duduk saja di sini dulu menunggu sampai operasi selesai," suster itu membimbingku kembali duduk di kursi yang tadi aku tempati.

Tak berapa lama suamiku datang, aku pun menceritakan kronologis kejadian dari awal aku memarahi Mia sebelum dia berangkat sekolah, sampai akhirnya menemukan Mia tergeletak di pinggir jalan. Wajah suamiku merah padam. Aku tahu ia marah besar, ia tak pernah setuju dengan caraku yang menurutnya terlalu keras kepada Mia dalam hal nilai akademik sekolah.

Tiap anak punya kelebihan dan kekurangannya sendiri. Fokus pada kelebihannya jangan hanya pada kekurangannya. Begitu suamiku selalu menasehati kalau aku sudah mulai memarahi Mia bila aku tidak puas akan nilai-nilainya di sekolah.

Aku menangis meminta ampun pada suamiku. Dia merengkuh tubuhku. Kulihat matanya juga basah, hatiku makin hancur, aku telah menyakiti orang- orang yang paling berharga dalam hidupku dengan keegoisanku.

Menit demi menit bagaikan siksaan menunggu anakku selesai di operasi.
Setelah 3 jam berlalu seorang Dokter menghampiri kami, kelihatannya operasi sudah selesai.

"Dokter ... Bagaimana Mia anak saya, baik- baik saja kan Dok?" Aku bertanya dengan suara gemetar. Raut wajah dokter ini seperti menyiratkan sesuatu, tapi ahhh tidak ... Itu tidak mungkin!.

"Maaf Bapak dan Ibu, kami sudah berusaha semampu kami, tapi putri bBapak Ibu tidak tertolong. Cedera kepalanya begitu parah dan organ dalamnya pun kerusakannya cukup fatal, kami tidak bisa menyelamatkannya. Saya harap Bapak dan Ibu tabah menerimanya." Dokter itu menyentuh bahuku sekilas mencoba menguatkan, kemudian berlalu.

Tidak ... Tidak ... Ini tidak mungkin ... ini tidak mungkin, Mia tidak mungkin pergi. Tadi ia masih kugendong dengan tanganku, masih berbicara denganku, bagaimana mungkin Mia meninggalkanku. Kami akan pulang ke rumah bersama-sama.

"Tidaaaaakkkkk ...! Miaaaa ... Jangan tinggalin mama Naakk ! Maafin mama Naakk ... Mama janji nggak akan marah-marah lagi sama Mia ...
Mia boleh pulang Naakk ... Mia boleh pulaaanggg ... !" Aku menjerit histeris, menangis sejadi-jadinya.

Benakku seolah otomatis memutar kejadian tadi pagi. Aku yang memarahi anakku, disertai ekspresi anakku yang tertunduk lesu, dan dengan langkah kuyu meninggalkan rumah. Ternyata itu adalah langkah terakhirnya yang bisa aku lihat. Aku bahkan tidak sempat memeluknya seperti biasa.

Sekejap aku tidak ingat apa-apa lagi, dunia terasa jungkir balik, hitam pekat yang kurasa. Aku terjatuh tidak sadarkan diri.

Aku perlahan terbangun. Di depanku Mia berbaring seperti tertidur pulas. Kutatap wajahnya, tenang dan bersih. Aku tak lagi menangis, aku tak bisa lagi menangis.

"Miaa ... Ayo kita pulang Nak ... Miaa ayo kita pulang ..." Hanya itu saja yang bisa keluar dari mulutku.

*Cerpen Fiksi
Anonim

PESANNYA ADALAH .........

Bunda ...
Jaga lisanmu terhadap anakmu ...

Bunda ...
Begitu mulianya engkau sehingga kata yang keluar dari mulutmu ibarat Doa ...

Bunda ...
Tidak ada anak yang sempurna, seperti hal nya tiada seorang ibu yang sempurna ...

Bunda ....
Mengapa kau menuntut kesempurnaan dari anakmu, padahal mereka tidak pernah meminta hal yang sebaliknya darimu ...

Bunda ...
Beri anakmu pelukan seolah itu adalah saat terakhir engkau memeluknya ...

(Self reminder, dari seorang Ibu yang tidak sempurna)

Sabtu, 28 September 2019

17 Hal yang Harus Dikerjakan Operator dan Kepala Madrasah di Simpatika

0 komentar


17 Hal yang Harus Dikerjakan Operator dan Kepala Madrasah di Simpatika

Sedikitnya ada 17 tugas dan pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh Operator Madrasah dan Kepala Madrasah. Berikut ini kelimabelas hal yang harus dilaksanakan oleh Kamad atau Operator Madrasah.

1.       Mengecek Keaktifan Setiap PTK
Kepala Madrasah atau Operator Madrasah, melalui akun PTK Kepala Madrasah, dapat mengecek keaktifan diri setiap PTK yang ada di lembaganya. Jangan sampai ada salah satu guru dan tenaga kependidikan yang masih belum aktif dan mencetak Kartu Simpatika.
Pengecekan dapat dilakukan di akun PTK Kepala Madrasah (bukan akun PTK Operator Madrasah) dengan mengklik menu Keaktifan >> Data Guru dan Data Staf. Di bagian ini akan ditampilkan siapa PTK yang sudah aktif dan siapa PTK yang belum melakukan keaktifan diri.
Operator dan Kamad harus memotivasi PTK di lembaganya untuk segera melakukan keaktifan diri dan mencetak Kartu PTK.

2.       Mengelola Siswa
Mengelola siswa merupakan salah satu pekerjaan dasar yang wajib dilakukan di setiap awal tahun pelajaran. Tahapan ini menjadi sangat penting karena jumlah siswa yang dimasukkan akan menjadi dasar dalam penghitungan rasio guru : siswa. Rasio menjadi salah satu penentu layak tidaknya seorang guru mendapatkan tunjangan.
Mengelola siswa terdiri atas empat tahapan, yaitu:
  1.           Mengunduh data siswa tahun pelajaran sebelumnya.
  2.          Mengedit data siswa hasil unduhan terkait dengan siswa naik kelas, siswa lulus, dan mutasi siswa. Pun menambahkan data siswa baru di tahun pelajaran berjalan.
  3.          Upload data siswa
  4.         Memasukkan siswa ke dalam rombongan belajar masing-masing


Pengelolaan siswa di Simpatika dapat dilakukan baik oleh Operator Madrasah maupun oleh Kepala Madrasah di akun Madrasah.
Pengelolaan ini hanya dilaksanakan satu tahun sekali yakni pada awal tahun pelajaran. Kecuali jika terjadi mutasi siswa atau siswa putus sekolah. Pada dua kondisi terakhir ini pengerjaannya cukup pada siswa yang bersangkutan saja tanpa harus melibatkan siswa-siswa lainnya.

3.      Persetujuan Guru Non Induk (S20)(Jika ada)
Untuk memenuhi kekurangan jam, guru dapat mengajukan mengajar di lebih dari satu madrasah. Madrasah yang selain madrasah utama (satminkal) disebut sebagai sekolah non induk.
Operator dan Kepala Madrasah dapat melakukan persetujuan pengajuan Madrasah Non Induk bagi guru yang mengajukan. Untuk melakukan persetujuan, Operator Madrasah atau Kamad, login dengan Akun Madrasah kemudian memilih menu Pendidik & Tenaga Kependidikan >> Registrasi PTK >> Entri Formulir S20.

4.       Melakukan Non Aktif Guru (SM04) (Jika ada)
Guru yang telah tidak aktif di lembaga tersebut harus dinonaktifkan (kecuali melakukan mutasi). Nonaktif ini bisa dikarena meninggal dunia, memasuki usia pensiun, atau sebab-sebab lainnya.
Untuk melakukan non aktif guru atau mencetak SM04, Kepala Madrasah atau Operator madrasah masuk ke layanan Simpatika pada layanan Akun Madrasah. Kemudian pilih menu Pendidik & Tenaga Kependidikan >> PTK Non Aktif >> Laporkan PTK Non Aktif. Setelahnya Kepala Madrasah mengajukan persetujuan Non Aktif ke Admin Kab/Kota.

5.       Mengangkat Pejabat Sekolah (S30)
Pejabat sekolah di sini meliputi Wakil Kepala, Kepala Laboratorium, Kepala Perpustakaan, Pembina Asrama, Pembimbing Khusus Inklusi, Kordinator Bidang Pendidikan, dan Pembina Pramuka. Masing-masing pejabat sekolah tersebut akan memiliki jam tambahan yang diakui ekuivalen sebagai jam mengajar sesuai ketentuan.
Untuk mengangkat pejabat sekolah, Operator atau Kepala Madrasah masuk dengan akses Akun Madrasah. Pilih menu Pendidik & Tenaga Kependidikan >> Direktori PTK >> Daftar Pejabat Sekolah. Dalam mengangkat pejabat sekolah harus mendapat persetujuan Admin Kab/Kota.

6.       Mengangkat Wali Kelas
Setiap wali kelas berhak atas 2 jam ekuivalen. Karena itu setiap rombongan belajar harus memiliki wali kelas.
Pengangkatan wali kelas dilakukan oleh Kepala Madrasah atau operator melalui Akun Madrasah. Pilih menu Sekolah >> Kelas >> daftar Kelas >> Edit Kelas >> Pilih Wali.

7.       Edit Ekuivalensi Kegiatan Pembelajaran dan Pembimbingan bagi Guru
Edit ekuivalen kegiatan pembelajaran dan pembimbingan bagi guru ini berlaku untuk Guru Piket, Pembina Ekstrakurikuler, Pembina Inklusi, Tutor Piket. Masing-masing akan mendapatkan 2 - 1 jam ekuivalen.
Untuk melakukan edit ekuivalen kegiatan pembelajaran dan pembimbingan, Kepala Madrasah atau Operator masuk melalui Akun Madrasah. Selanjutnya pilih menu Sekolah >> Jadwal >> Edit Ekuivalensi Kegiatan Pembelajaran dan Pembimbingan bagi Guru.

8.       Edit JTM Guru BK/TIK (Jika ada)
Agar jam tatap muka guru BK/TIK dapat otomatis dihitung oleh sistem (berdasarkan jumlah siswa) dan diakui sebagai JTM, Kepala Madrasah atau Operator harus melakukan edit JTM guru BK/TIK.
Edit JTM Guru BK/TIK ini dlakukan melalui Akun Madrasah. Pilih menu Sekolah > Jadwal > Edit JTM Guru BK/TIK.

9.       Isi Jadwal Kelas Mingguan (Jadwal Mengajar Guru)
Pengisian jadwal mengajar mingguan (Jadwal Kelas) untuk seluruh rombel di madrasah tersebut menjadi tugas Kepala Madrasah atau Operator Madrasah. Jadwal yang diisikan nantinya akan menjadi JTM bagi masing-masing guru dan dihitung sebagai salah satu penentu kelayakan menerima tunjangan.
Pengisian Jadwal Kelas Mingguan dilakukan melalui Akun Madrasah Sekolah > Jadwal > Lihat Jadwal Mingguan.
Sedangkan untuk mengecek JTM yang dibebankan pada setiap guru (hasil dari entri jadwal mengajar) dapat dilihat di akun setiap PTK pada menu Analisa Tunjangan dan menu Cetak Portofolio. Atau pada akun PTK Kepala Madrasah di menu Keaktifan >> Data Guru. Di menu terakhir ini akan ditampilkan Beban (JTM), Total JTM, Rombel yang diampu, Siswa yang diampu, Rasio, dan status keaktifan dari setiap guru.
Cek Keaktifan, JTM, dan rasio Guru
Selama dan setelah tahapan ini setiap PTK dan Kepala Madrasah harus proaktif untuk mengecek JTM masing-masing. Sehingga tidak akan ada guru yang kekurangan JTM ataupun terkendala rasio yang menyebabkan tunjangan tidak layak diberikan.

10.   Update Biodata (S12) (Jika ada)
Jika diperlukan (ada perubahan data), Operator maupun Kepala Madrasah pun harus melakukan update biodata pribadi layaknya PTK yang lain. Update ini bisa meliputi biodata pribadi dan keluarga, riwayat pendidikan, riwayat pegawai, fungsi dan jabatan. Perubahan biodata ini wajib mendapatkan persetujuan dari Admin Kab/Kota.

11.   Mengajukan Keaktifan Kolektif (S25)
Setelah semua tahapan di atas Kepala Madrasah melakukan Ajuan Keaktifan Kolektif atau cetak S25a. Cetak S25a ini dilakukan melalui Akun PTK Kamad pada menu Keaktifan >> Ajukan Verval.
Sebelum mencetak S25a pastikan semua tahapan di atas sudah dilakukan, karena beberapa updating data tidak bisa dilakukan setelah S25 dicetak. Jangan lupa juga untuk mengarsipkan S25a, karena menu cetak S25 akan hilang setelah mendapat persetujuan dari Admin Kab/Kota.
Setelah dicetak S25 diajukan ke Admin Kab/Kota untuk mendapatkan persetujuan (S25b) agar tahapan verval Simpatika dapat berlanjut ke proses pengajuan SKMT dan SKBK.

12.   Cetak Kartu PTK Kepala Madrasah
Kepala Madrasah baru bisa mencetak kartu sekaligus berstatus aktif pada semester berjalan setelah ajuan S25 mendapatkan persetuan Admin Kab/Kota (mendapat S25b).
Untuk mencetak Kartu PTK Kepala Madrasah, Kamad masuk melalui Akun PTK Kepala Madrasah kemudian memilih menu Keaktifan >> Cetak Kartu (menu ini hanya muncul setelah S25a disetujui).

13.   Mengajukan SKMT (S29a)
Sebagaimana guru lainnya, Kepala Madrasah pun harus mengajukan S29a (SKMT). Sehingga namanya akan muncul di menu Pengesahan dan penilaian SKMT bersama guru-guru lainnya.
Untuk mengajukan SKMT (Cetak S29a) langkahnya adalah masuk ke Simpatika dengan Akun PTK Kepala Madrasah. Klik menu SKBK & SKMT >> Pengajuan SKBK >> Cetak Surat.
Menu Cetak Surat SKMT hanya muncul setelah S25a disetujui. Setelah mencetaknya jangan lupa untuk mengarsipkan S29a tersebut.

14.   Pengesahan dan Penilaian SKMT (Lampiran S29a)
Setelah semua guru mencetak S29a (serta S29b dan S29c bagi guru non induk) tugas Kepala Madrasah berikutnya adalah melakukan penilaian dan pengesahan SKMT atau Cetak Lampiran S29 untuk semua guru di lembaga tersebut (baik yang satminkal maupun non induk), termasuk bagi Kepala Madrasah sendiri.
Menu Pengajuan SKBK dan Pengesahan SKMT
Cara mencetak lampiran S29 adalah dengan masuk ke Akun PTK Kepala Madrasah lalu pilih menu SKBK & SKMT >> Pengesahan SKMT >> Pilih guru yang dinilai.

15.   Cetak Surat Pengantar SKBK (S29d)
Seperti guru lainnya, Kepala Madrasah pun harus mencetak S29d (Surat Pengantar SKBK). S29d bersama dengan S29a dan lampiran S29, diajukan ke Admin Kab/Kota untuk mendapatkan SKBK (S29e).
Untuk mencetak s29d caranya adalah dengan masuk ke Akun PTK Kepala Madrasah lalu pilih menu SKBK & SKMT >> Pengajuan SKBK >> Cetak Surat Pengantar. Menu ini baru akan muncul setelah Kepala Madrasah mencetak Lampiran S29.

16.   Mengisi dan Cetak S35 Tiap Akhir Bulan
Absensi Guru seharusnya diisi setiap hari oleh Kepala Madrasah atau Operator Madrasah yang ditugaskan oleh Kepala. Apakah seorang guru di madrasah tersebut hadir, ijin, sakit, datang terlambat, ataukah alpa tidak hadir. Sistem akan secara otomatis mengisi seorang guru hadir setiap hari. Kepala Madrasah cukup melakukan perubahan (mengedit) jika terdapat guru yang tidak hadir entah dengan ijin, atau karena sakit dan alpa.
Menu Absensi Guru dapat diakses dengan cara:
  • Kepala Madrasah atau Operator Madrasah login ke layanan Simpatika
  • Pada dasbor layanan, pilih layanan "Madrasah"
  • Klik menu "Pendidik & Tenaga Kependidikan"
  • Klik submenu "Absensi"
  • Klik submenu "Lihat Absensi - Absensi Guru"
  • Untuk memilih hari dan tanggal yang diinginkan klik tombol panah kanan dan kiri atau gambar kalender
  • Untuk mengedit kehadiran, pilih tanggal (sebagai nomor 6 di atas) lalu klik tombol panah ke bawah di ujung kanan nama guru yang bersangkutan.
  • Untuk mencetak S35, klik tombol "Cetak S35"


Pastikan isian pada S35 telah benar pada setiap akhir bulan. Karena kondisi isian pada akhir bulan ini otomatis akan tercantum pada SKAKPT yang tentunya mempengaruhi kelayakan tunjangan bagi setiap guru.

17.   Mencetak S36c atau S36d
S36c (Guru PNS) dan S36d (Guru Non PNS) adalah Surat Keputusan Analisa Kelayakan Penerima Tunjangan atau SKAKPT. SKAKPT diterbitkan tiap bulan di akun PTK masing-masing.
Sebagai seorang guru sertifikasi, Kepala Madrasah maupun Operator Madrasah ikut mencetak SKAKPTK untuk memenuhi persyaratan pencairan tunjangan profesi.
Cara untuk mengaksesnya adalah:
  • PTK login ke akun Simpatika masing-masing
  • Pada dasbor layanan, pilih layanan "PTK"
  • Klik menu "SKAKPT"
  • Klik menu "Cetak SKAKPT"
  • Klik gambar printer pada ujung kanan bulan yang hendak dicetak SKAKPT-nya.


Itulah 17 hal yang harus dilaksanakan oleh Kepala Madrasah atau Operator selama pelaksanaan verval Simpatika. Semoga rangkuman hal-hal yang harus dikerjakan ini dapat menjadi pedoman yang memudahkan setiap operator dan Kepala Madrasah sehingga pelaksanaan Verval Simpatika dapat berjalan dengan sukses.

Sing Sabar
Sing Ikhlas



Minggu, 22 September 2019

4 Kompetensi Guru

0 komentar
Guru adalah salah satu unsur penting yang harus ada sesudah siswa. Apabila seorang guru tidak punya sikap profesional maka murid yang di didik akan sulit untuk tumbuh dan berkembang dengan baik. Hal ini karena guru adalah salah satu tumpuan bagi negara dalam hal pendidikan. Dengan adanya guru yang profesional dan berkualitas maka akan mampu mencetak anak bangsa yang berkualitas pula. Kunci yang harus dimiliki oleh setiap pengajar adalah kompetensi. Kompetensi adalah seperangkat ilmu serta ketrampilan mengajar guru di dalam menjalankan tugas profesionalnya sebagai seorang guru sehingga tujuan dari pendidikan bisa dicapai dengan baik.

Sementara itu, standard kompetensi yang tertuang ada dalam peraturan Menteri Pendidikan Nasional mengenai standar kualifikasi akademik serta kompetensi guru dimana peraturan tersebut menyebutkan bahwa guru profesional harus memiliki 4 kompetensi guru profesional yaitu kompetensi pedagogik dan kompetensi kepribadian, profesional serta kompetensi sosial. Dari 4 kompetensi guru profesional tersebut harus dimiliki oleh seorang guru melalui pendidikan profesi selama satu tahun.

Berikut ini adalah penjelasannya 4 kompetensi guru profesional:

1. Kompetensi Pedagogik

Kompetensi ini menyangkut kemampuan seorang guru dalam memahami karakteristik atau kemampuan yang dimiliki oleh murid melalui berbagai cara. Cara yang utama yaitu dengan memahami murid melalui perkembangan kognitif murid, merancang pembelajaran dan pelaksanaan pembelajaran serta evaluasi hasil belajar sekaligus pengembangan murid.

2. Kompetensi Kepribadian

Kompetensi kepribadian ini adalah salah satu kemampuan personal yang harus dimiliki oleh guru profesional dengan cara mencerminkan kepribadian yang baik pada diri sendiri, bersikap bijaksana serta arif, bersikap dewasa dan berwibawa serta mempunyai akhlak mulia untuk menjadi sauri teladan yang baik.

3. Kompetensi Profesional

Kompetensi profesional adalah salah satu unsur yang harus dimiliki oleh guru yaitu dengan cara menguasai materi pembelajaran secara luas dan mendalam.

4. Kompetensi Sosial

Kompetensi sosial adalah salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang pendidik melalui cara yang baik dalam berkomunikasi dengan murid dan seluruh tenaga kependidikan atau juga dengan orang tua/wali peserta didik dan masyarakat sekitar.

Selasa, 27 Agustus 2019

Parenting ; "Sinergi Pola Asuh antara Orangtua dan Madrasah"

0 komentar
Pengertian Sinergi

  • Sinergi = kegiatan atau operasi gabungan (KBBI online) 
  • Sinergi berasal kata dari syn-ergo suatu kata Yunani yang berarti bekerjasama (Hampden-Turner, 1990). 
  • Senada dengan etimologi di atas, Walton (1999) mendefinisikan sinergi sebagai hasil upaya kerjasama atau ’co-operative effort’, karena itu inti dari proses untuk menghasilkan kualitas sinergi adalah kerjasama.  
  • Stephen R. Covey (7 Habits of Highly Effective People) menyampaikan bahwa jika 1 + 1 = 3, maka itulah yang disebut “Synergy”.  Sinergi adalah saling mengisi dan melengkapi perbedaan untuk mencapai hasil lebih besar 
Pola Asuh
Pola asuh terdiri dari dua kata yaitu pola dan asuh. Dalam KKBI (Anton Moeliono, tanpa tahun), bahwa kata pola memiliki arti: 
  1. Sistem; cara kerja 
  2. Bentuk (struktur) yang tetap
Sedangkan kata asuh memiliki arti: 
  1. Menjaga (merawat dan mendidik) anak kecil.
  2. Membimbing (membantu, melatih dan sebagainya) supaya dapat berdiri sendiri. 
POLA ASUH 
  • Dapat dijabarkan bahwa pengertian pola asuh adalah sistem, cara kerja atau bentuk dalam upaya menjaga, merawat, mendidik dan membimbing anak supaya dapat berdiri sendiri. 
  • Tarsis Tarmudji (2005:1) mengungkapkan bahwa pola asuh orangtua merupakan interaksi antara anak dan orangtua selama mengadakan kegiatan pengasuhan.
SINERGI POLA ASUH 
1. Berorientasi pada hasil dan positif  
2. Perspektif beragam untuk melengkapi cara pandang
3. Saling bekerjasama dan bertujuan sama serta adanya kesepakatan 
4. Merupakan suatu proses yang diusahakan dengan sangat efektif  
5. Karena merupakan suatu proses, sinergi tidak bisa dilakukan secara instan. Semua pihak yang
 bersinergi membutuhkan waktu dan juga konsistensi.



Bagaimana memulainya?
1. BERORIENTASI PADA HASIL DAN POSITIF  
  • Memahami visi dan misi MI Islamiyah Kedungmegarih 
  • Membaca dan memahami kurikulum yang ada di MI Islamiyah Kedungmegarih, sehingga mengerti sesuatu yang khas untuk pendidikan anak selama 6 tahun 
  • Bermanfaat untuk meyakinkan walimurid kepada anaknya secara penuh KASIH SAYANG, bukan dengan PAKSAAN apalagi PEMBIARAN, tentang pentingnya belajar di MI Islamiyah Kedungmegarih 
VISI dan MISI MI ISLAMIYAH KEDUNGMEGARIH
VISI 
TERWUJUDNYA GENERASI YG BERAKHLAQUL KARIMAH DAN BERPRESTASI 

MISI:  
1. Mengajarkan ajaran Islam Aswaja 
2. Menanamkan sikap dan tanggungjawab sosial, 
3. Pembelajaran akademik dan non akademik yang kompetitif 

Bagaimana visi dan misi rumah dan keluarga anda ?????
?
?
?

Tinjauan Neuroscience
  • Otak anak - remaja diibaratkan seperti fasilitas hiburan yang belum sepenuhnya sempurna terhubung (kabel longgar, DVD player belum disetting untuk terkoneksi dengan televisi, jangkauan remote control juga belum terjangkau sinyalnya)
  • Remote control terletak pada piranti otak berpikir (Pre frontal cortex) yang baru akan mulai matang  pada usia 14-21 tahun (aqil) 
  • Maka, Pengambilan keputusan dan tindakan pada anak remaja lebih dikendalikan oleh piranti otak emosionalnya (sistem limbik) 
  • Berdasarkan pemindaian otak, area-area ini yang paling awal berkembang adalah area mencari kesenangan dan pengharagaan 
  • Kombinasi otak berpikir yang belum matang dan kebutuhan kesenangan serta penghargaan mendorong anak dan remaja untuk melakukan keputusan dan tindakan yang lebih ke arah “nekat”, mencari sensasi untuk memuaskan kebutuhan pengharagaan 
  • Otak berpikir yang belum matang menjadikan anak dan remaja menjadi belum sepenuhnya memperkirakan kemungkinan negatif (baik jangka pendek dan jangka panjang)
  • Maka perlu dibantu dengan panduan Tujuan (visi) di dalam hidupnya.

2. PERSPEKTIF BERAGAM UNTUK MELENGKAPI CARA PANDANG 
  • Menurut bapak/ibu, mengapa memilih menitipkan putra/putrinya MI Islamiyah Kedungmegarih? 
  • Menurut bapak/ibu, apakah putra/putri Anda sudah benar-benar mantap atau terpaksa? 
Mengapa penting? 
  • Melatih anak untuk memahami untuk apa dia dititipkan ke madrasah,
  • Melatih kemandirian anak dalam banyak hal 
  • Memupuk rasa tanggung jawab dalam diri anak
ASPEK PENGUAT DI SEKOLAH DAN DI RUMAH 
  • Tekun dalam mengamati perkembangan ibadah dan akhlak anak-anak  
  • Menjadi role model/panutan, 
  • Berlatih untuk menjadi sahabat bagi anak, 
  • Berlatih untuk menjadi  pembimbing bagi anak. 
Aktivitas Membangun Keteladanan 
  • Masing-masing anggota keluarga membuat aktivitas yang bisa mencapai tujuan visi 
  • Menjalankan aktivitas dengan sungguh-sungguh dan konsisten 
  • Melengkapinya dengan peraturan keluarga yang ditegakkan 
  • Menerima konsekuensi logis terhadap pelanggaran aturan  
  • Menyediakan forum memberikan umpan balik dan saling mendoakan 
Aktivitas Membangun Persahabatan 
  • Orang tua membiasakan membangun kedekatan dengan anak melalui berbagai macam kegiatan, seperti menyediakan waktu untuk mendengarkan anak (pendapat mereka, keluhan mereka , komplain mereka terkait pengasuhan orangtua, dan lainnya) 
  • Menyempatkan mengusap wajah dan bahu mereka  ketika mereka hendak tidur, mau berangkat ke sekolah, pulang sekolah, atau memeluknya ketika cemas, risau, dan sedih 
  • Menyediakan forum memberikan umpan balik dan saling mendoakan
Aktivitas Pembimbingan ke Anak 
  • Tekun menemani perjalanan tujuan anak (baik akademik maupun non akademik) 
  • Orangtua menyempatkan menanyakan kabar anak hari itu, memastikan apakah tugas-tugas dari sekolah sudah diselesaikan, memberikan bantuan apabila ada kesulitan, dan memberikan penghargaan terhadap pencapaian mereka (bukan hasilnya)
  • Tidak terburu-buru memberikan nasihat kepada anak, namun bisa ditanyakan tentang apa yang sedang terjadi, dan ditanyakan bagaimana jalan keluar atas apa yang sedang terjadi
Data Umum 
  • 7 dari 10 pelajar SMP kelas 9 TIDAH TAHU mau melanjutkan ke SMA/SMK 
  • 9 dari 15 pelajar SMA TIDAK TAHU profesi apa yang mereka inginkan 
  • Masih banyak orang tua yang TIDAK TAHU apa yang mengenai MINAT dan BAKAT anaknya sehingga akhirnya menjalankan pendidikan dengan terpaksa 
6 LANGKAH SINGKAT
  1. Melatih anak untuk mampu mengungkapkan tujuan dari aktivitas-aktivitas yang dilakukannya 
  2. Melatih anak untuk membuat tahapan-tahapan pencapaiannya 
  3. Melatih anak untuk mampu mengetahui pilihanpilihan yang ada
  4. Melatih anak untuk menemukan sumberdaya-sumberdaya yang dimiliknya 
  5. Melatih anak untuk mengambil keputusan dan menangani konsekuensi yang menyertainya 
  6. Melatih anak untuk mengukur pencapaiannya 
3. SALING BEKERJASAMA DAN BERTUJUAN SAMA SERTA ADANYA KESEPAKATAN

  • Membiasakan untuk melakukan tabayyun kepada pengelola sekolah setiap kali ditemukan hal yang “kurang sreg” baik itu berdasarkan laporan dari anak atau informasi dari orang tua lain; 
  • Penting untuk melatih anak agar memahami bahwa untuk menuju ke cita-cita yang tinggi, memerlukan pembelajaran yang kadang “tidak mengenakkan”, “tidak diinginkan”, dan perlu “pengorbanan” 
  • Berpartisipasi secara optimal terhadap program-program di sekolah (salah satu contohnya adalah buku penghubung menjadi tolok ukur keseriusan orang tua dalam memberikan perhatian terhadap perkembangan putra/putrinya. Bila perlu, bagi orang tua yang kurang serius, bisa diberi perlakuan khusus. 

4. PROSES YANG DIUSAHAKAN DENGAN SANGAT EFEKTIF  
  1. Orang tua mempercayai 100% terhadap sekolah dan memasrahkan dengan ikhlas pengasuhan anaknya ke sekolah agar hubungan yang terbangun harmonis
  2. Apabila ada kebelumcocokan, maka penyelesaiannya tetap sama-sama saling menghormati dan saling mendoakan 
  3. Ketika sudah tidak mungkin didamaikan, maka bisa meninggalkan sekolah dengan tetap menjaga hubungan baik 

5. MEMBUTUHKAN WAKTU DAN JUGA KONSISTENSI
 
  • Masing-masing pihak yang bersinergi  senantiasa memperbaiki kualitas layanannya dan saling menguatkan 
  • Sekolah senantiasa berbenah sesuai dengan  perkembangan jaman termasuk masukan dari walimurid dan demikian juga sebaliknya 
  • Orang tua menguatkan kualitas pola asuhnya terhadap anak
  • Anak didorong untuk memahami tentang tujuan mulia sekolah beserta cara-cara  pembimbingannya, sehingga lebih tangguh dalam menghadapi kondisi sosial yang semakin komplek karena pengaruh globalisasi 

Sinergi dan berbagi
akan menderaskan rizki 

Senin, 29 Juli 2019

Minggu, 28 Juli 2019

Pengertian Program Indonesia Pintar (PIP)?

0 komentar


Apa itu PIP?

Program Indonesia Pintar Program Indonesia Pintar(PIP)) melalui Kartu Indonesia Pintar (KIP) adalah pemberian bantuan tunai pendidikan kepada anak usia sekolah (usia 6-21 tahun) yang berasal dari keluarga kurang mampu, yang merupakan bagian dari penyempurnaan Program Bantuan Siswa Miskin (BSM).

Siapa Sasaran PIP?

1. Peserta didik pemegang KIP

2. Peserta didik dari keluarga miskin/rentan miskin dengan pertimbangan khusus

3. Peserta didik SMK yang menempuh studi keahlian kelompok bidang: Pertanian, Perikanan, Peternakan, Kehutanan dan Pelayaran/Kemaritiman.


Siapa penyelenggara Program Indonesia Pintar?

Penyelenggaranya merupakan kerja sama tiga kementerian yaitu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Kementerian Sosial (Kemensos), dan Kementerian Agama (Kemenag).

Mengapa harus ada pemberian KIP?

Kartu Indonesia Pintar (KIP) harus diberikan sebagai penanda/identitas untuk menjamin dan memastikan seluruh anak usia sekolah dari keluarga kurang mampu terdaftar sebagai penerima bantuan ini baik melalui jalur pendidikan formal (mulai SD/MI hingga anak Lulus SMA/SMK/MA) maupun pendidikan informal dan nonformal.

Apa tujuan PIP?

1. Meningkatkan akses bagi anak usia 6 sampai dengan 21 tahun untuk mendapatkan layanan pendidikan sampai tamat; 
2. Meringankan biaya personal pendidikan; 
3. Mencegah peserta didik dari kemungkinan putus sekolah; 
4. Menarik siswa putus sekolah agar kembali melanjutkan pendidikannya.

Bagaimana jika siswa miskin belum menerima KIP?

Dapat mendaftar dengan membawa Kartu Keluarga Sejahtera (KKS).